Asuransi Syari’ah

BAB I : PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Islam merupakan agama yang berupaya menjadi “ way of life” dengan sistem ajaran yang sempurna yang mencakup segala aspek kehidupan manusia baik masalah dunia maupun akhirat yang semua sudah terangkum didalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan secara detail, namun ada juga hukum-hukum yang masih sifatnya umum sehingga dibutuhkan adanya penjelasan dengan hadist-hadist Nabi.
Islam juga bukan agama kaku dan beku yang tidak bisa berubah, akan tetapi dalam agama islam diperbolehkan adanya ijtihad bagi para ulama. Ijtihad merupakan upaya memikirkan sesuatu dengan sunguh-sungguh yang dilakukan oleh orang yang mempunyai derajat ilmu yang tinggi (faqih) yang menghasilkan suatu produk tentang hukum syara’ yang bersifat amaliah melalui cara istimbath.  Hal ini diperbolehkan dengan berkembangan zaman dan banyaknya masalah baru yang sebelumnya belum diterangkan dalam Al-Qur’an maupaun As-Sunah sehingga ulama dibperbolehkan untuk berijtihad agar mampu memberikan solusi atuu penjelsan atas persoalan-persoalan yang muncul
Dalam hal beribadah dibedakan atas ibadah yang bersifat madhah dan ghairu mahdhah. Ibadah madhah merupakan ibadah yang telah ditentukan waktu dan tata caranya yang ada dalam al-qu’an dan ajaran Nabi seperti salat, puasa. Sedangkan ibadah ghairu mahdhah merupakan ibadah yang banyak berorientasi pada muamalah yakni mengatur hubungan antar manusia dengan sesama dan lingkungannya, contohnya adalah masalah yang akan dibahas yaitu asuransi.
Asuransi muncul sekitar abad ke-13  dan abad ke- 14 di italia dalam bentuk asuransi perjalanan lautan. Hal ini tentunya belum dibahas dalam masalah fiqih klasik. Karena asuransi berkembang didunia barat maka wataknya lebih kental dengan konvensianal maupun kapitalisme yang didalamnya terkandung unsur riba yang sangat ditentang dalam ajaran islam.
Adanya persoalan tersebut maka membuka pintu ijtihad bagi para ulama untuk menyelesaikan masalah ini. Hasilnya banyak ulama yang mengharamkan asuransi seperti Sayid Sabiq , Muhammad yusuf Qardhawi, mereka berangggapan asuransi banyak unsur judi dan ketidakpastian. Adapula ulama yang memperbolehkan asuransi seperti Abdul wahab khallaf dengan mempertimbangkan maslahah atau manfaatnya.
Meskipun banyak perbedaan pendapat dikalangan ulama, adanya Asuransi dirasa sangat penting karena sebagai upaya proteksi diri dari berbagai resiko dimasa mendatang yang tidak pasti, tentunya semua hal yang berkaitan dengan asuransi harus sesuai dengan prinsip-prinsip syar’ah dad dapat memberikan sebuah maslahah.
B.    RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.    Kenapa muncul Asuransi dan bagaimana asuransi yang ada saat ini.?
2.    Apa definisi dari Asuransi dan bagaimana dengan Asuransi Syari’ah?
3.    Pandangan berbagi ulama tentang Asuransi?
4.    Perbedaan Asuransi konvensianal dan Asuransi Syari’ah?
5.    Pandangan Maqhasid dari segi Maslahah terhadap Asuransi Syari’ah

BAB II : PEMBAHASAN
A.    Sejarah Asuransi
Menurut beberapa literatur, kira-kira abad ke-12 M, pelaku bisnis dari kaum muslimin yang kebanyakan para pelaut, sebenarnya telah melaksanakan sistem kerja sama atau tolong menolong untuk mengatasi berbagai kejadian dalam menopang bisnis mereka, layaknya seperti mekanisme asuransi. Kerjasama ini mereka lakukan untuk membantu mengatasi kerugian bisnis, diakibatkan musibah yang terjadi misal ; tabrakan, tenggelam, terbakar atau akibat serangan penyamun.  Sekitar tujuh abad kemudian, sistem ini akhirnya diadopsi para pelaut eropa dengan melakukan investasi atau mengumpulkan uang bersama dengan sistem membungakan uang. Pada abad ke-19 cara membungakan uang inipun menjelajahi penjuru dunia, terutama setelah dilakukan para pedagang cina keturunan Yahudi.
Pada penghujung abad ke-20 M, atau  abad ke-15 H, para ekonom muslim mulai melahirkan pemikiran dan merenovasi konsep ekonomi Islam .Asuransi adalah salah satu lembaga ekonomi yang menjadi fokus perhatian pakar muslim, sehingga konsep yang menggunakan format maisir, riba, gharar yang berjalan selama ini harus dirubah menjadi sistem bagi hasil, tolong menolong dengan mendorong pemanfaatan Tabarru. Selain itu sistem asuransi syari’ah harus mempunyai komitmen untuk kesejahteraan bersama dimulai aqad tabarru’ yang jelas, bukan aqad jual beli.
Di indonesia Asuransi Takaful telah berdiri sejak 25 agustus 1994, merupakan salah satu dari perusahaan asuransi sedunia yang memiliki sistem yang sama. Kehadirannya di Indonesia memberi angin segar sekaligus sebagai upaya memberikan alernatif berasuransi secara Islami.

B.    Ruang Lingkup Asuransi
1.    Definisi Asuransi Syari’ah
Asuransi dalam Undang-Undang No.2 Th 1992 tentang usaha perasuransian adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum pihak ke tiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.
Asuransi Syari’ah (Ta’min, Takaful atau Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syari’ah. (Fatwa DSN No.21/DSN-MUI/X/2001 Tentang pedoman Umum Asuransi Syari’ah) Asuransi syari’ah merupakan sistem alternatif, tepatnya pengganti, atas pola asuransi konvensional yang menerapkan sistem atau akad pertukaran yang tidak sejalan dengan syariat Islam. Pada sistem asuransi syari’ah, setiap peserta bermaksud tolong-menolong satu sama lain dengan menyisihkan sebagian dananya sebagai iuran kebajikan (tabarru’). Dana inilah yang digunakan untuk menyantuni siapapun diantara peserta asuransi yang mengalami musibah. Jadi bukan dalam bentuk akad pertukaran dianatara dua pihak, melainkan akad untuk saling tolong-menolong (takaafuli) di antara semua peserta.

2.    Dasar Hukum Asuransi Syari’ah
a.    Al-Qur’an
1.    Surat Al Hasyr : 18
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (masa depan) dan bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesunguhnya Allah Maha mengetahui apa yang engkau kerjakan”
2.    Surat Yusuf : 43-49,
Allah menggambarkan contoh usaha manusia membentuk sistem proteksi menghadapai kemungkinan yang buruk dimasa depan. Secara ringkas, ayat ini bercerita tentang pertanyaan raja mesir tetang mimpinya kepada Nabi Yusuf. Dimana raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus, dan dia juga melihat tujuh tangkai gandum yang hijau berbuah serta tujuh tangkai yang merah mengering tidak berbuah. Nabi Yusuf dalam hal ini menjawab supaya kamu bertanam tujuh tahun dan dari hasilnya hendaklah disimpan sebagian. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapapi masa sulit tesebut, kecuali sedikit dari apa yang disimpan.
b.    Hadis-hadis Nabi S.A.W tentang beberapa prinsip bermuamalah, antara lain:
1.    Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
2.    Perumpamaan orang beriman dalam kasih sayang, saling mengasihi dan mencintai bagaikan tubuh (yang satu) jikalau satu bagian menderita sakit maka bagian lain akan turut menderita (HR. Muslim dari Nu’man bin Basyir)
c.    Kaidah Fiqh yang menegaskan dalam prinsip hukum bermuamalat :
1.    Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.
2.    Segala mudharat harus dihindarkan sedapat mungkin
3.    Segala mudharat (bahaya) harus dihilangkan.
3.    Konsep Dasar dan Prinsip dalam Asuransi Syari’ah
Konsep dasar asuransi yang dibenarkan syari’ah adalah tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan (al birri wat taqwa).  Takaful bertujuan memberikan perlindungan kepada peserta yang bermaksud menyediakan sejumlah dana bagi ahli warisnya dan atau penerima hibah, wasiat,bilamana peserta tersebut meninggal dunia. Selain itu sebagai tabungan atau menjadi dana persiapan, bilamana mendapatkan kesulitan dana, akibat sakit, kecelakaan maupun karena sebab lainnya.
Prinsip-prinsip Asuransi Syari’ah
a.    Dibangun atas dasar kerjasama (ta’awun)
b.    Asuransi syariat tidak bersifat mu’awadhoh, tetapi tabarru’ atau mudhorobah
c.    Sumbangan (tabarru’) sama dengan hibah (pemberian) oleh karena itu haram hukumnya ditarik kembali. Kalau terjadi peritiwa, maka diselesaikan menurut syariat.
d.     Setiap anggota yang menyetor uangnya menurut jumlah yang telah  ditentukan harus disertai dengan niat membantu demi menegakkan prinsip ukhuwah.
e.     Tidak dibenarkan seseorang menyetorkan sejumlah kecil uangnya dengan tujuan supaya ia mendapat imbalan yang berlipat bila terkena suatu musibah, Akan tetapi ia diberi uang jamaah sebagai ganti atas kerugian itu menurut ijin yang diberikan oleh jamaah.
f.    Apabila uang itu akan dikembangkan maka harus dijalankan menurut aturan syar’i.

4.    Akad-akad dalam Asuransi Syari’ah
Akad yang dilakukan antara peserta dengan perusahaan terdiri atas akad tijarah dan/atau akad tabarru’. Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial. Akad tabarru’ adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial.
5.    Produk Asuransi syari’ah
a.    Takaful Keluarga (Asuransi Jiwa)
Bentuk takaful yang memberikan perlindungan dlm menghadapi musibah kematian dan kecelakaan atas diri peserta takaful
1.    Takaful dengan unsur tabungan : Takaful Dana Haji, Takaful Pendidikan, Takaful berencana/ Dana Investasi dll
2.    Takaful tanpa unsur tabungan : Takaful berjangka, Takaful Majelis ta’lim, Takaful kecelakaan diri, Takaful perjalanan dll
b.    Takaful Umum
Bentuk takaful yang memberi perlindungan dalam menghadapi bencana atau kecelakaan atas harta milik peserta takaful, produknya : Takaful Risiko pembangunan, Takaful Pengangkutan Barang, Takaful Risiko Mesin, Takaful Kebakaran dll

C.    Pandangan Ulama terhadap Asuransi
Para ulama dan cendekiawan muslim terbagi kepada empat pandangan dalam berijtihad menentukan hukum asuransi ( Kuat Ismanto dalam bukunya Asuransi Syari’ah Tinjauan Asas-asas hukum Islam )  :
1.    Mengharamkan asuransi dalam segala macam dan bentuknya sekarang ini termasuk asuransi jiwa. Kelompok ini didukung oleh Sayid Sabiq, Abdullah al-Qalqili Mufti Yordania, Muhammad Yusuf Qardhawi dan Muhammad Bakhit al-Muthi’. Alasan-alasan yang mereka gunakan adalah:
a.    Asuransi pada hakikatnya sama atau serupa dengan judi
b.    Mengandung unsur tidak jelas dan tidak pasti (uncertainty)
c.     Mengandung unsur riba/rente
d.    Mengandung unsur eksploitasi, karena pemegang polis kalau tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya, bisa hilang atau dikurangi uang premi yang telah dibayarkan.
e.    Premi-premi yang telah dibayarkan oleh para pemegang polis diputar dalam praktek riba (kredit bunga).
f.    Asuransi termasuk akad sharfi, yaitu jual beli atau tukar menukar mata uang yang tidak dengan tunai (cash and cary)
g.    Hidup dan mati manusia dijadikan obyek bisnis, yang berarti mendahului takdir Tuhan Yang Maha Kuasa).
2.    Membolehkan semua asuransi yang dalam prakteknya sekarang ini. Pendapat kedua ini didukung oleh Abdul Wahab Khallaf, Mustafa Ahmad Zarqa, Guru Besar Hukum Islam pada Fakultas Syari’ah Universitas Syiria, Muhammad Yusuf Musa, Guru Besar Hukum Islam pada Universitas Cairo Mesir, dan Abdurrahman Isa, pengarang al-Muamalah al-Haditsahh wa Ahkamuha. Adapun alasan mereka membolehkan asuransi adalah:
a.    Tidak ada nash al-Quran dan Hadits yang melarang asuransi.
b.     Ada kesepakatan/kerelaan kedua belah pihak.
c.    Saling menguntungkan kedua belah pihak.
d.    Mengandung kepentingan umum (maslahat ‘amah), sebab premi-premi yang terkumpul bisa diinvestasikan untuk proyek-proyek yang produktif dan untuk pembangunan.
e.    Asuransi termasuk akad mudharabah, artinya akad kerja sama bagi hasil antara pemegang polis (pemilik modal) dengan pihak perusahaan asuransi yang memutar modal atas dasar profit and loss sharing.
f.    Asuransi termasuk koperasi (syirkah ta’awuniyah)
g.    Diqiyaskan (analogi) dengan sistem pensiun, seperti Taspen.
3.    Membolehkan asuransi yang bersifat sosial dan mengharamkan asuransi yang semata-mata bersifat komersial. Pendapat ketiga ini didukung oleh Muhammad Abu Zahrah, Guru Besar Hukum Islam pada Universitas Cairo Mesir.
4.    Menganggap syubhat. Karena tidak ada dalil-dalil syar’i yang secara jelas mengharamkan atau pun menghalalkan asuransi.
Dari keempat hukum asuransi di atas, ada beberapa faktor yang mempengaruhi asuransi dipandang sebagai hukum mubah karena segala unsur atau transaksi dalam asuransi sesuai dengan syari’ah. Sistem asuransi inilah yang disebut dengan asuransi syaria’h.
D.    Perbedaan Asuransi syari’ah dengan Konvensional
Asuransi konvensional menerapkan kontrak yang dalam syari’ah disebut kontrak jual beli (tabaduli) yaitu saling mengganti atau saling menukar antara pembayaran premi yang disetorkan peserta asuransi dengan pembayaran klaim yang diserahkan perusahaan asuransi.
Dalam kontrak ini harus memenuhi syarat-syarat kontrak jual-beli yaitu harus jelas berapa yang harus dibayarkan dan berapa yang harus diterima. Ketidakjelasan persoalan besarnya premi yang harus dibayarkan karena bergantung terhadap usia peserta yang mana hanya Allah yang mengetahui kapan manusia meninggal mengakibatkan asuransi konvensional mengandung   gharar (ketidakjelasan) pada kontrak, Sehingga mengakibatkan akad pertukaran harta benda dalam asuransi konvensional dalam praktiknya cacat secara hukum karena ada salah satu syarat akad tabaduli tidak terealisir.
Dalam asuransi  syari’ah kontrak yang digunakan bukan kontrak jual beli melainkan kontrak tolong menolong (takafuli). Jadi asuransi jiwa syari’ah menggunakan kontrak tabarru (derma / sumbangan), Kontrak ini adalah alternatif yang sah dan dibenarkan dalam melepaskan diri dari praktik yang diharamkan pada asuransi konvensional. Tujuan dari dana tabarru’  adalah memberikan dana kebajikan dengan niat ikhlas untuk tujuan saling membantu satu dengan yang lain sesama peserta asuransi syari’ah apabila diantaranya ada yang terkena musibah. Dana tabarru’ disimpan dalam satu rekening khsusus, dimana bila terjadi risiko, dana klaim yang diberikan adalah dari rekening dana tabarru’ yang sudah diniatkan oleh semua peserta untuk kepentingan tolong menolong. Kontrak tabarru’ merupakan hibah yang dialokasikan bila terjadi musibah
Unsur di dalam asuransi jiwa bisa juga berupa tabungan. Dalam asuransi jiwa syari’ah, tabungan atau investasi harus memenuhi prinsip syari’ah. Dalam hal ini, pola investasi bagi hasil adalah cirinya dimana perusahaan asuransi hanyalah mediator/pengelola dana yang terkumpul dari para peserta. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian di pengelola.
Pada asuransi konvensional dikenal dana hangus, yaitu peserta tidak dapat melanjutkan pembayaran premi jika ingin mengundurkan diri sebelum masa jatuh tempo. Begitu pula dengan asuransi konvensional non-saving (tidak mengandung unsur tabungan) atau asuransi kerugian, asuransi kebakaran, asuransi kecelakaan,jika habis masa kontrak dan tidak terjadi klaim, maka premi asuransi yang sudah dibayarkan hangus atau menjadi keuntungan perusahaan asuransi.
Dalam konsep asuransi syari’ah, mekanismenya tidak mengenal dana hangus. Peserta yang baru masuk sekalipun karena satu dan lain hal ingin mengundurkan diri, maka dana atau premi yang sebelumnya sudah dibayarkan dapat diambil kembali kecuali sebagian kecil saja yang sudah diniatkan untuk dana tabarru’ yang tidak dapat diambil. Dalam asuransi syari’ah, jika habis masa kontrak dan tidak terjadi klaim, maka pihak perusahaan mengembalikan sebagian dari premi tersebut dengan pola bagi hasil, misalkan dengan rasio bagi hasil 60:40 atau 70:30 sesuai dengan kesepakatan kontrak di muka. Dalam hal ini maka sangat mungkin premi yang dibayarkan di awal tahun dapat diambil kembali dan jumlahnya sangat bergantung dengan tingkat investasi pada tahun tersebut.

E.    Pandangan Maqhasid terhadap Asuransi Syari’ah
Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya, hal ini merupakan pedoman umum dalam kaidah fiqh terhadap ketentuan suatu hukum baru yang belum ada sebelumnya seperti yang telah dijelaskan dalam prinsip kaidah fiqh. Adanya suatu permaslahan baru merupakan hala yang wajar dikarenakan berkembanganya zaman, akan tetapi semua itu harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Kaitanya dengan Maqhasid maka bagaimana suatu permasalahan ini mampu memberikan maslahah / manfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan tidak menimbulkan kemudharatan selain itu mampu menberikan rasa keadilan bagi sesama.
Asuransi yang ada saat ini dalam prakteknya dirasa sangat merugikan selain dengan sistem bunga yang jelas dilarang dalam islam, juga terdapat dana hangus bila mana nasabah tidak dapt mengangsur premi asuransi yang telah ditentukan. Dengan hal ini maka muncul Asuransi syari’ah yang memenuhi prinsip-prinsip syari’ah yang telah dijelaskan sebelumnya.
Pandangan maqhasid terhadap Asuransi Syari’ah berkaitan dengan maslahat ( sesuatu yang baik dan dapat diterima oleh akal) , sehingga dengan adanya asuransi dapat memberikan manfaat, kebaikan dan kesenangan bagi manusia. Selain itu adanya asuransi juga menghindarkan umat islam dari kerusakan dan keburukan. Hal itu semua merupakan bentuk maslahat . Ditinjau dari tingkat kebutuhan Asuransi ternasuk kebutuhan sekunder/Hajiyat. Maksudnya bahwa hal ini telah menjadi kebutuhan dalam kehidupan akan tetapi tidak mencapai tingkat dharuri (utama), jika kebutuhan ini tidak dipenuhi dalam kehidupan manusia, tidak akan meniadakan atau merusak kehidupan itu sendiri.
Implementasi Maslahat dalam Asuransi Syariah
Dalam kaidah fiqhiyah ada lima hal sebagai kelengkapan hidup manusia yang berkaitan dengan Maslahat yaitu : agama,  jiwa, akal, harta dan keturunan.
1.    Manfaat Asuransi bagi Agama
Dalam upaya menjadikan agama islam menjadi “way of life” ketika berasuransi syari’ah tentunya merupkan sebagian jalan agar agama islam bisa dijadikan landasan hidup “way of Life” dan untuk menjaga agama yang tentunya hal ini berkaitan dengan bentuk maslahahah dharuriayah yakni upaya menjaga agama.

2.    Manfaat Asuransi bagi diri sendiri dan keluarga
Ketidakpastian dimasa mendatang tentunya harus dipersiapkan sejak dini agar nantinya tidak timbul berbagai masalah jika sewaktu-waktu terjadi sebuah resiko yang berkenaan dengan dirinya ataupun keluarganya (upaya menjaga jiwa) . Adanya asuransi ini tentunya bisa mendidik manusia agar berperilaku hemat daan berpandangan jauh kedepan untuk berencana terhadap hartanya (upaya menjaga harta), sehingga pada nantinya kebutuhan terhadap diri sendiri dan keluarga bisa terpenuhi seperti persiapan pendidikan anak, warisan keluarga, pensiun dihari tua dan lain-lain (upaya menjaga keturunan). Tentunya apabila hal ini direncanakan tentunya akan merasa tenang (upaya menjaga akal) dalam masa mendatang karena telah dipersiapkan sejak sekarang bila mana terjadi sebuah resiko. Hal ini merupakan salah satu bentuk pemenuhan terhadap aspek-aspek dharuriyah yaitu terpenuhinya maslahah jiwa, harta, keturunan dan akal.

BAB III : PENUTUP
KESIMPULAN
Asuransi Syari’ah (Ta’min, Takaful atau Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syari’ah.(Fatwa DSN No.21/DSN-MUI/X/2001 Tentang pedoman Umum Asuransi Syari’ah)
Asuransi syari’ah merupakan sistem alternatif, tepatnya pengganti, atas pola asuransi konvensional yang menerapkan sistem atau akad pertukaran yang tidak sejalan dengan syariat Islam. Pada sistem asuransi syari’ah, setiap peserta bermaksud tolong-menolong satu sama lain dengan menyisihkan sebagian dananya sebagai iuran kebajikan (tabarru’).
Ditinjau dari tingkat kebutuhan Asuransi ternasuk kebutuhan sekunder/Hajiyat. Maksudnya bahwa hal ini telah menjadi kebutuhan dalam kehidupan akan tetapi tidak mencapai tingkat dharuri (utama), jikakebutuhan ini tidak dipenuhi dalam kehidupan manusia, tidak akan meniadakan atau merusak kehidupan itu sendiri. Asuransi juga sangat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Khoiril. 2007. Asuransi Syari’ah Halal & Maslahat. Solo : Tiga Serangkai
Basyir, Ahmad Azhar.1993. Asas-asas Hukum Mu‟amalat (Hukum Perdata Islam), Yogyakarta:Perpustakaan Hukum UII.
Ismanto, Kuat. 2009. Asuransi Syari’ah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Syarifuddin, Amir. 1999. Ushul Fiqh. Jakarta : Prenada Media Group
Suhendi, Hendi.1997. Fiqh Muamalah. Jakarta : RajaGrafindo Persada
Warman, Adiwarman A. 2004. Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan. Jakarta: RajaGrafindo Persada
http://akucintaallianz.blogspot.com/2011/11/wikipedia-definisi-asuransi.html/ diakses pada tanggal 22 Desember 2011
http://belajarfiqh.blogspot.com/2009/03/masalah-asuransi.html/ diakses pada tanggal 22 Desember 2011
http://asuransitakaful.net/landasan-syari’ah/pedoman-umum-asuransi-syari’ah/ diakses pada tanggal 22 Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s