LARANGAN TRANSAKSI DALAM ISLAM

Islam telah memberikan panduan yang jelas dalam bertransaksi agar menghasilkan transaksi yang halal dan tayyib. Islam juga telah menggariskan jenis-jenis transaksi yang dilarang yaitu: (1) Membuat dan menjual barang-barang yang najis, seperti bangkai, babi, anjing, arak, tahi, kencing dan lain-lain. Barang-barang tersebut adalah haram li zatihi, karena Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT jika mengharamkan suatu barang, maka harganya pun haram juga”. (HR Ahmad dan Abu Daud). (2) Membuat barang-barang yang tidak bermanfaat dalam Islam (membawa kepada mafsadat dan maksiat) atau yang mendatangkan kelalaian hingga menyebabkan seseorang individu itu lupa untuk beribadah kepada Allah. (3,4,5) Transaksi yang mengandung unsur riba, gharar, perjudian (6) Bay‘ ma‘dum (7) Melakukan penipuan dalam transaksi. (8) Membeli di atas belian orang lain. (9) Melakukan penimbunan (ihtikar), dan lain-lain
1. Riba secara bahasa bermakna al-fadl wa al-ziyadah, al-idafah, al-numuw. Sedangkan menurut istilah, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. Riba ada dua macam yaitu: (1) riba duyun (riba qard dan jahiliyyah), (2) riba buyu‘ (riba fadl dan nasi’ah). Dalam kehidupan sekarang, riba telah berkembang dengan bentuk dan nama yang bermacam-macam seperti bunga, faedah, intersest, usury, dan rente. Menyebut riba dengan nama bunga, intersest, usury, dan rente tidak akan mengubah sifatnya, karena hakikatnya sama saja. Semuanya dilarang oleh Islam.
2. Gharar secara etimologis adalah sinonim dengan khatar, khada‘, dan al-jahl. Secara terminologis, gharar adalah segala transaksi yang tidak jelas (ghairu ma‘lum/unknown) dalam hal-hal khususnya atau tidak jelas hasil atau konsekuensinya (majhul ‘aqibah). Sebab utama terjadinya gharar adalah (1) kurangnya informasi (baik berkaitan dengan sifat, spesifikasi, harga, waktu penyerahan) tentang objek kontrak pada pihak yang berkontrak, dan (2) objek kontrak tidak ada. Gharar ada dua macam yaitu: (1) gharar fahisy yang dapat membatalkan akad. (2) Gharar yasir yang dapat dimaafkan oleh Syarak sehingga tidak membatalkan akad.
3. Maysir pada mulanya tidak termasuk dalam praktek transaksi komersial. akan tetapi dikembangkan berdasarkan pada makna literalnya yaitu sering dipersamakan dengan qimar atau mukhatara yang bermakna spekulasi atau perjudian dan taruhan. Perjudian maknanya mendapatkan sesuatu dengan cara terlalu mudah tanpa usaha keras, atau menerima keuntungan tanpa kerja. Jadi perjudian itu prinsipnya, seseorang apakah akan mendapat bagian banyak, sedikit atau bahkan tidak dapat bagian sama sekali semata-mata tergantung pada keberuntungan, dan ketidakjujuran juga menjadi bagian bagian utama dalam transaksi. Maysir secara jelas disebutkan keharamannya dalam al-Quran (Q.S. al-Ma’idah (5): 90).
4. Ihtikar berasal dari kata ihtakara yang maknanya secara etimologis adalah istabadda (menghalangi). Ihtikar secara terminologis adalah membeli barang kebutuhan manusia baik berupa makanan atau lainnya agar barang tersebut langka, sehingga kemudian harga menjadi naik dan akibatnya timbul kemadaratan pada manusia. Ihtikar adalah tindakan yang diharamkan, akan tetapi tidak semua bentuk penimbunan diharamkan. Ihtikar diharamkan jika memenuhi syarat-syarat tertentu.
Dalam amanat terakhirnya dalam khutbah haji wada‘, Rasulullah SAW menegaskan sikap Islam yang melarang keras terhadap riba, Rasulullah SAW bersabda: “Ingatlah bahwa semua riba yang diamalkan pada zaman jahiliyyah dihapuskan dari amalan kamu. Kamu berhak mengambil modal (uang pokok) yang kamu berikan, niscaya kamu tidak menzalimi dan tidak dizalimi…”(H.R. Muslim).
Selain itu, masih banyak lagi hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang larangan riba, diantaranya (artinya):
1. Jabir berkata bahwa Rasulullah SAW mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, “Mereka itu semuanya sama.” (H.R. Muslim)
2. Dari Abu Hurairah r.a., Nabi bersabda, “Pada malam mi’raj saya telah bertemu dengan orang yang perutnya besar seperti rumah, didalamnya dipenuhi oleh ular-ular yang kelihatan dari luar, lalu saya bertanya kepada Jibril, siapakah meraka? Jibril menjawab, mereka adalah orang-orang yang memakan riba”. (H.R. Ibnu Majah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s